AHY Kenang ‘Tim 8’ di Depan PKS, Membuka Kembali Kisah Duet Anies-AHY 2024
Jakarta, MediaKalsel – Pertemuan antara Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Almuzzammil Yusuf pada Selasa (25/11/2025), tak hanya membahas isu politik terkini. Momen kehangatan itu justru dimanfaatkan AHY untuk bernostalgia, secara khusus mengungkit memori Pilpres 2024 yang erat kaitannya dengan PKS dan figur Anies Baswedan.
Dalam sambutannya di DPP Demokrat, AHY membawa hadirin kembali ke masa pembentukan Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP). AHY terang-terangan menyebut keberadaan “Tim Delapan”, tim strategis yang saat itu dibentuk oleh petinggi Demokrat, PKS, dan NasDem.
“Bapak-Ibu sekalian masih ingat ini? Masih ingat Tim 8?” tanya AHY, memecah suasana pertemuan.

Ia menggambarkan Tim 8 bukan sekadar kenangan, melainkan sebuah sejarah. “Ini adalah kenangan tapi juga sejarah, betul? Sejarah yang indah karena selalu ada hikmah dari itu semuanya,” tambah AHY, seolah me-review kembali proses panjang kebersamaan Demokrat dan PKS menjelang Pilpres 2024.
Momen kenangan ini sangat krusial. Sebab, publik masih lekat dengan ingatan bahwa di masa-masa Tim 8 aktif, nama AHY sempat menjadi kandidat terkuat pendamping Anies Baswedan sebagai Calon Wakil Presiden. Pada 2022–2023, saat kedua partai masih tergabung dalam Koalisi Perubahan, pasangan Anies–AHY bahkan dielu-elukan oleh sebagian relawan sebagai pasangan ideal.
Meskipun dinamika politik akhirnya berubah dan kedua partai kini bersatu di kubu pemerintahan Prabowo-Gibran, pengungkitan memori “Tim 8” ini dinilai sebagai sinyal reaktivasi emosional. Pertemuan ini seolah membuka kembali referensi penting dalam hubungan ketiga poros lama: Demokrat, PKS, dan Anies Baswedan.
Menanggapi spekulasi yang muncul, Presiden PKS Almuzzammil Yusuf mencoba bersikap moderat. Ia mengakui pertemuan tersebut membahas sistem pemilu dan arah koalisi, namun untuk urusan 2029, ia menyatakan dinamika politik masih terlalu jauh dan tak terprediksi.
“Nanti 2029 itu masih terlalu jauh, dinamika politik itu unpredictable. Insya Allah yang terbaik untuk bangsa dan negara. Kita selalu berdoa,” kata Muzzammil.
Namun, sikap PKS yang tidak menutup pintu sama sekali, justru memperkuat dugaan bahwa sinergi kembali dengan Demokrat—dan potensi narasi duet Anies-AHY jilid selanjutnya—masih menjadi opsi yang terbuka di masa depan. Meskipun demikian, AHY menekankan bahwa kolaborasi saat ini adalah untuk kontribusi kepada bangsa di dalam pemerintahan.
“Tentunya kita bersyukur kini kita bersatu kembali bersinergi berkolaborasi dalam pemerintahan. Saya rasa tidak ada cita-cita lain selain kita ingin terus berkontribusi untuk masyarakat bangsa dan negara yang kita cintai bersama ini,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan