MediaKalsel, Martapura – Harga kemasan plastik di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan melonjak naik dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini terjadi imbas konflik Timur Tengah yang berkepanjangan.

Salah satu pedagang plastik di Martapura, Kabupaten Banjar, Ahmad Zaini Dahlan mengatakan, dia harus mengalah dengan memangkas keuntungan kecil sekaligus menaikan harga kemasan plastik agar tidak boncos.

“Saya tidak sanggup menjaga harga pasar. Misal kemasan plastik standing pouch, harga awalnya Rp30 ribu jadi Rp38 ribu,” ujar Zaini, Senin (6/4/2026).

Berbagai jenis plastik yang umum digunakan masyarakat pun harganya juga meningkat.

“Kalau dihitung persenan, kenaikannya sekitar 30 persen sampai 100 persen,” lanjut Zaini.

Zaini menambahkan, fenomena ini tidak normal. Pembeli banyak yang kaget. Tapi orang-orang tetap membelinya walau sempat bingung karena harganya naik.

“Sama pelanggan saya banyak yang kaget. Biasanya sering beli, sekarang jadi bingung karena harganya naik,” ungkapnya.

Penyebab Kenaikan Harga Plastik

Harga bahan baku plastik, yaitu nafta—senyawa hidrokarbon hasil turunan minyak bumi naik hampir 45 persen dalam satu bulan terakhir.

Setidaknya, 70 persen nafta di seluruh dunia berasal dari Timur Tengah. Pasokannya terganggu sejak Iran diserang AS-Israel pada 28 Februari.

Harga bahan baku plastik ini naik hampir 45% dalam satu bulan terakhir.

Per 1 April 2026, harga nafta menyentuh 917 USD/ton dibandingkan Februari sekitar 630 USD/ton. Harga masih sangat dinamis dari hari ke hari.

Di dunia industri, gabungan pengusaha makanan dan minuman melaporkan harga plastik kemasan sudah naik hingga 50 persen.

Plastik Tidak Dapat Disubsidi

Pada 1 April kemarin, sempat menyebar isu harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akan naik. Namun hal tersebut hoax karena telah disubsidi pemerintah.

Meskipun harga BBM domestik masih ditahan pemerintah, biaya produksi sektor industri tetap naik karena bahan baku non-BBM ini tidak dilindungi kebijakan subsidi.

“Artinya itu kan enggak bisa disuplai, dan ketersediaannya enggak jelas kapan bisa di tangan kami,” kata Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, Plastik (Inaplas), Kamis (2/4/2026).

Suplai Alternatif dari Asia Tengah

Maka dari itu, para pengusaha mencari alternatif lain untuk menyuplai bahan baku plastik berasal dari Afrika, Asia Tengah dan Amerika Serikat.

Namun terdapat konsekuensinya, pengiriman itu membutuhkan waktu dua kali lipat dari biasanya.

“Waktu pengiriman kalau dari Timur Tengah kan cukup sampai 15 hari. Kalau dari luar Timur Tengah paling cepat itu 50 hari,” kata Fajar.

Kenaikan harga seperti plastik dan barang lainnya akan terus terjadi selama konflik di Timur Tengah belum selesai karena mengganggu pasokan bahan baku. Pemerintah sedang mengupayakan diversifikasi pemasok, namun belum ada kepastian kapan harga akan kembali normal.