Mengapa Tidak Ada Nama Orang Tua yang Kehilangan Anak?
MediaKalsel – Seorang istri kehilangan suami disebut janda. Suami kehilangan istri disebut duda. Anak kehilangan kedua orang tuanya adalah yatim piatu. Namun hingga sekarang, bahasa Indonesia menyisakan satu ruang kosong di halaman kamus besar untuk orang tua yang kehilangan anak mereka. Mengapa?
Dosen Hukum dan Sastra Inggris di Duke University, Professor James B. Duke, Karla Francesca Holloway pernah menciptakan label kepada para orang tua yang kehilangan anaknya bernama vilomah.
“Vilomah is a name for the grief we represent. It might sound odd at first. But we have grown used to the word “widow.” It’s not much different, and it shares the same etymology. (Vilomah adalah nama untuk duka yang kami wakili. Awalnya mungkin terdengar aneh. Tetapi kami sudah terbiasa dengan kata “janda”. Tidak jauh berbeda, dan memiliki etimologi yang sama),” tulis Professor Holloway dalam artikel berjudul A Name For A Parent Whose Child Has Died, setelah kehilangan putranya secara tragis.
Ia menjelaskan, kata vilomah sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya melawan urutan alam atau terbalik. Menurutnya, bahasa Inggris dan bahasa mayoritas dunia menolak melabeli fenomena orang tua kehilangan anak karena memecah konsensus sosial tentang urutan alami kehidupan.
Walau begitu, melalui budaya modern seperti film Rabbit Hole (2010) karya sutradara John Cameron Mitchell menceritakan tentang kedua orang tua yang kehilangan anaknya dalam kecelakaan tragis, lalu harus menjalani hidup dengan kuat.
Dalam film itu, si ibu bernama Becca (Nicole Kidman) dan ayah yaitu Howie (Aaron Eckhart) menjalani kehidupan setelah delapan bulan anak mereka, Danny yang berumur empat tahun, meninggal karena kecelakaan tragis.
Salah satu adegan ketika Becca ditanya oleh orang lain, “Apakah kamu punya anak?”, ia terjebak dalam identitas membingungkan. Bila ia jawab punya, maka akan mengundang banyak pertanyaan menyakitkan. Jika Becca jawab tidak, ia merasa mengkhianati anaknya sendiri.
Sehingga kesedihan terbesar dari orang tua yang kehilangan anak bukan hanya fakta anak mereka telah tiada, melainkan harus menjalani sisa hidup sebagai “sesuatu” yang bahkan dunia tidak tahu apa namanya.
Sementara itu, salah satu studi hukum membahas kompensasi bagi keluarga yang mengalami kehilangan anak dalam kasus tragis seperti maraknya penembakan di sekolah luar negeri. Biasanya, para ahli hukum dan psikolog sering mengawali argumen mereka dengan ketidakmampuan dalam menyebut para orang tua yang kehilangan anaknya sebagai siapa.
“There is no word for a parent who loses a child. That’s how awful the loss is. (Tidak ada kata untuk orang tua yang kehilangan anak. Begitulah dahsyatnya duka itu),” mengutip dari studi hukum berjudul Children, Wrongful Death, and Punitive Damages oleh Jill Wieber Lens.
Bahkan dari literatur linguistik Indonesia seperti dalam buku Semantik Bahasa Indonesia karya Abdul Chaer atau teori Harimurti Kridalaksana, para ahli menegaskan jika rumpang leksikal (kekosongan kata) bukanlah cacat, kelemahan, atau kesalahan struktural dari sebuah bahasa. Rumpang leksikal adalah hal yang lumrah dan alami dalam bahasa apa pun di dunia, karena bahasa tumbuh secara organik mengikuti keperluan sosiologis, budaya, dan batasan psikologis masyarakat penuturnya.
Maka dari itu, tiada kata dan nama dapat melabeli para orang tua yang kehilangan anak, pun hal tersebut bukanlah kesalahan, namun rasa hormat terdalam dari bahasa manusia. Ada rasa sakit yang terlalu sakral dan terlalu besar untuk sekadar diringkas menjadi satu kata kaku.

Tinggalkan Balasan