Kekerasan Anak dan Perempuan 2025 di Kalsel Catat 515 Kasus
Banjarbaru, MediaKalsel – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menggelar Sosialisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Banjarbaru, Sabtu (8/11/2025).
Kegiatan ini bertujuan memperkuat komitmen lintas sektor dalam menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan bagi kelompok rentan di Kalsel.
Data Simfoni PPA: 515 Kasus Kekerasan
Kepala DP3AKB Provinsi Kalsel, Husnul Hatimah, dalam mengungkapkan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayahnya masih tinggi dan diibaratkan sebagai fenomena “gunung es”.
Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) Provinsi Kalsel, tercatat 515 kasus kekerasan dari Januari hingga September 2025, dengan total 544 korban.
“Dari jumlah tersebut, korban anak (laki-laki dan perempuan) mencapai 331 orang, sementara korban perempuan tercatat sebanyak 202 orang. Adapun bentuk kekerasan yang paling banyak dialami adalah kekerasan psikis, seksual, dan fisik,” ujar Husnul.
Ia menegaskan, perempuan dan anak adalah bagian tak terpisahkan dari pembangunan bangsa, namun mereka merupakan kelompok rentan yang memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang secara aman.
Pencegahan Holistik dan Tanggung Jawab Bersama
Husnul menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung kegiatan ini, seraya menekankan pentingnya pencegahan sebagai langkah utama yang harus diperkuat dengan melibatkan semua pemangku kepentingan.
“DP3A Kalsel berkomitmen untuk terus mendorong upaya-upaya yang bersifat holistik, mulai dari edukasi, penguatan regulasi, peningkatan kapasitas SDM, hingga layanan perlindungan yang terintegrasi,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa perlindungan perempuan dan anak bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan seluruh elemen masyarakat, termasuk orang tua, pendidik, dan tokoh masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan kepedulian. Mari kita mulai dari rumah, sekolah, dan komunitas, dengan menanamkan nilai-nilai kesetaraan dan saling menghargai,” tambahnya.
Mengakhiri sambutannya, Husnul mengajak seluruh peserta untuk aktif menolak dan melaporkan setiap bentuk kekerasan.
“Dengan kerja sama yang kuat, kita yakin dapat mencetak generasi yang lebih baik, perempuan yang berdaya, serta keluarga yang sejahtera,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan