MediaKalsel – ‘Kentucky’, ayam tepung pinggir jalan itu sangat mewah saat saya masih kecil. Harganya enam ribu per potong, biasanya beli potongan dada. Terkadang dibelikan orang tua pas berhasil capai sesuatu, misalnya ranking satu. Sisanya jarang-jarang. Bahkan makannya harus pakai nasi, aturan tidak tertulis yang bikin saya terbiasa hingga menuju dewasa.

‎Pertama kali kerja dan bisa cari uang, saya balas dendam—beli ayam goreng utuh tanpa nasi dan makan sendiri.

‎Sampai sepotong terakhir, saya berpikir kalau akhirnya ini bukan tentang balas dendam. Tapi sebegitu susahnya kondisi saat itu, walau cukup.

Memori dari Gerobak ‘Kentucky’ di Pesayangan

‎Setiap melintasi jalan pulang di perbatasan Kota Martapura dengan Kecamatan Martapura Timur, Pesayangan, aroma khasnya selalu menerobos indra penciuman, ketika saya bawa motor pelan. Aroma yang sangat sulit dilupakan, tepung berbumbu melapisi ayam, lalu dicelupkan ke minyak panas, bawang putih bikin aromatik sampai menguap dari penggorengan besar di gerobak itu.

‎Kalau dilihat, gerobak ini tertulis ‘Kentucky’ atau ‘Fried Chicken’ dengan font dan desain sederhana. Harganya memang sudah ditempelkan seadanya, Rp6 ribu sepotong.

‎Bagi beberapa orang lain, Kentucky merupakan negara bagian di Amerika Serikat, atau perusahaan ayam goreng besar yang berasal dari negeri yang sama.

‎Tapi, istilah ‘Kentucky’ berbeda untuk saya yang berada di kelas bawah yang mencoba meranjak ke menengah ini. Ia adalah sebutan untuk semua ayam goreng tepung krispi. Baik itu yang dijual di kedai, maupun yang dijajakan gerobakan di pinggir jalan dengan harga merakyat. 

‎Ga jarang juga, ketika saya beli Rocket atau Sonic Chicken terus dibawa ke desa asal saya, saya dengan yakin kalau mereka tetap menyebutnya ‘Kentucky’. Kalau istilah kata Gen-Z nih, hal tersebut sudah jadi top of mind orang-orang.

‎Kembali ke aroma khas penggorengan gerobak di Pesayangan tadi. Bagi saya, aroma itu bukan sekadar bau-bauan yang umum dari kuliner jalanan, tetapi sebagai mesin waktu yang melempar saya kembali ke masa kecil dulu.

‎Mewah Pas Kecil, Dapat Dua udah Bahagia

‎Sewaktu kecil saya diberikan semua hal dengan cukup atau pas-pasan. Bersyukur bisa makan enak sesekali, mainan? ada hasil diberi. Tapi, hal mewah yang akan abadi di diri saya pada saat Ayah, tulang punggung keluarga, pulang bawa bungkusan plastik berisikan kertas minyak. Di dalamnya, ada dua potong dada ayam goreng tepung yang masih hangat.

‎Kala itu saat saya juara satu di kelas, jadi ga setiap hari. Ia bawa ‘Kentucky’ itu agar memberikan apresiasi kepada anaknya yang dulu bermimpi jadi aktor. Ayah wiraswasta, bantu ibu jual kue tradisional.

‎Ada sebuah aturan tidak tertulis tapi ditanamkan kepada saya saat itu: sepotong ayam harus dimakan bareng nasi. Satunya buat malam. Ini bukan soal selera, tapi “taktik bertahan hidup”. 

‎Sebagai keluarga yang saat itu hidup di ambang garis kemiskinan, nasi adalah makanan wajib, penopang utama. Ayam, sebagaimana lauk, cuma pelengkap rasa. 

‎Alhasil, saat itu saya cuma bisa mengambil cubitan daging ayam sekecil mungkin, lalu mencampurnya dengan suapan nasi yang besar. Tujuannya satu, untuk memastikan bahwa di suapan nasi terakhir, masih ada sisa kulit ayam atau remahan tepung yang tertinggal. Bikin kebiasaan saya makan itu lauk atau bagian paling enak selalu dimakan terakhir.

‎Menghabiskan ayam lebih cepat daripada nasi dianggap sebagai sebuah kesalahan. Ya, saat itu kami belajar cara memperpanjang rasa nikmat di tengah keterbatasan yang ada.

‎Namun, keterbatasan itu juga yang mengasah rasa syukur. Saya masih ingat betul bagaimana cara saya menikmati setiap keriuk tepungnya. Rasanya jauh lebih gurih daripada makanan mahal mana pun yang pernah saya cicipi setelah dewasa.

‎Makan ‘Kentucky’ Tanpa Nasi, Balas Dendam dari Hati, Sederhana tapi Pasti.

‎Waktu berlalu, hidup membawa saya pada fase berbeda, walau turun naik. Saya tumbuh besar, hampir berhenti sekolah namun lulus, dan akhirnya punya pekerjaan tetap. Kini, saya sudah bisa cari uang sendiri.

‎Saya mengenang pertama kali bekerja sebagai penjaga toko parfum rintisan. Setelah dapat upah Rp800 ribu, saya memutuskan untuk melakukan sebuah “ritual” yang saya sebut sebagai “aksi balas dendam”. Saya mampir ke gerobak ayam goreng langganan, di Pesayangan itu. Bukan untuk memesan satu atau dua potong, tetapi lima potong sekaligus, tambah ayam goreng utuh yang sempat viral. Karena saya yakin ga bisa menghabiskannya, saya putuskan tanpa nasi.

‎Saya bawa pulang, susun di atas piring plastik, dan duduk dengan perasaan puas, atau mungkin merasa menang.

‎Saya cuman ingin makan ayam itu dengan saos sambal ala kadar dengan rasa kicut asam-manis.

‎Pada gigitan pertama, saya merasa bernostalgia. Saya memakan kulit ayamnya sekaligus tanpa rasa takut akan kehabisan lauk. Saya menikmati dagingnya dalam potongan besar, membiarkan minyaknya membasahi jari-jari saya tanpa perlu memikirkan apakah ini akan membuat saya kenyang sampai besok pagi atau tidak.

‎Aksi “balas dendam” ini mungkin terdengar konyol atau kekanak-kanakan bagi sebagian orang. Namun, secara emosional, ini adalah cara berkompensasi. 

‎Kalau dalam psikologi, momen-momen seperti ini seringkali membentuk apa yang disebut sebagai inner child atau sisi kekanak-kanakan dalam diri orang dewasa. Kenangan tentang keterbatasan di masa lalu, seringkali meninggalkan lubang emosional yang tanpa sadar ingin kita tambal saat kita sudah punya kemampuan finansial. 

‎Dan, saat itu, saya sedang memanjakan si bocah kecil yang dulu harus menahan liur melihat orang lain makan dengan lahap. Saya sedang menghadiahi diri saya yang dulu harus puas hanya dengan aroma, sementara perutnya hanya diisi nasi putih.

‎Menariknya, setelah potongan ketiga, saya mulai merasakan sesuatu yang aneh. Rasa puas itu ada, tetapi ada juga rasa kosong yang merayap, sedikit begah.

‎Saya menyadari bahwa kemewahan sejati dari ‘Kentucky’ itu sebenarnya bukan terletak pada jumlah ayam yang sanggup saya beli. Kemewahan itu ada pada momen keluarga yang selalu mengapresiasi saat saya berhasil melakukan sesuatu.

‎Fenomena ‘Kentucky’ pinggir jalan di Indonesia adalah bukti bahwa kebahagiaan punya standar yang berbeda-beda. Bagi orang kaya, itu adalah makanan sehari-hari. Bagi seorang mahasiswa perantauan, mungkin itu menjadi penolong saat perut kosong. Dan, bagi saya, itu adalah sebuah monumen peringatan tentang perjuangan dan kasih sayang keluarga.