MediaKalsel – Kabupaten Banjar ini memang unik. Sering kali orang luar salah sangka. Dikira Banjar itu ya Banjarmasin atau Banjarbaru. Padahal, kalau kata orang sini: ‘Ngalih mambidakan amun kada rancak mampir’ (Susah membedakan kalau tidak sering mampir).

Memang benar, daerah ini punya magnet kuat di bidang religi sampai dijuluki Serambi Mekkah, apalagi kalau sudah acara Haul Guru Sekumpul, jutaan orang tumpah ruah di sini.

‎Tapi, di balik ramainya pasar terapung dan kentalnya suasana pesantren, ada beberapa hal yang jarang diketahui orang luar sampai bikin bingung. Coba kita bahas pelan-pelan.

‎Urusan Nama Kabupaten Banjar Panjang Riwayatnya

‎Kalau ada orang bertanya, “Kenapa namanya Kabupaten Banjar, bukan Kota?” Biasanya kita cuma bisa nyengir sambil menjawab, “Memang dari sananya sudah kaitu.” Padahal kalau menilik sejarah, urusannya panjang dan rada bikin sesak dada karena campur tangan penjajah.

‎​Dulu, pusatnya adalah Kesultanan Banjar yang beristana di Bumi Kencana, alias Martapura yang sekarang. Tahun 1860, Belanda yang waktu itu lagi haus kekuasaan menghapuskan kesultanan ini secara sepihak. Alasannya? Biar perlawanan rakyat tidak punya “induk”. Dari sana, wilayah kita dipecah-pecah jadi bagian kecil yang namanya susah dieja, seperti Afdeeling atau Onderafdeeling.

‎​Setelah Indonesia merdeka, namanya sempat jadi Kabupaten Banjarmasin. Baru pada tahun 1953, lewat usulan para tokoh daerah, namanya diganti jadi Kabupaten Banjar biar beda dengan tetangga sebelah. Jadi, kalau sekarang orang luar masih salah sebut, ya wajar aja, sejarahnya aja memang penuh bongkar pasang nama demi mempertahankan jati diri.

‎Dominan Kuliner Kuah, Nggak Jago Bakar Ikan Aja

‎Kita semua tahu kalau Kabupaten Banjar itu gudangnya ikan Patin dan Nila, bahkan bakarannya unik dari daerah lain. Tapi jangan salah, lidah orang Banjar itu sebenarnya lebih “bekawan” dengan masakan berkuah daripada yang dibakar-bakar kering. “Mun kadada kuahnya, kurang sreg rasanya,” begitu biasanya celetukan orang-orang saat makan siang, apalagi pas puasa, becanda.

‎​Misalnya Soto Banjar. Bukan sekadar sup ayam biasa, kuahnya bisa bening atau sedikit kental karena campuran susu atau santan. Wangi rempahnya itu yang bikin kaganangan. Terus ada lagi Gangan Asam. Ini beda jauh dengan sayur asem di tanah Jawa. Gangan Asam Banjar pakai ikan Haruan dan punya rasa segar yang tak ada tandingannya.

‎​Ada juga Ketupat Kandangan. Meskipun namanya membawa nama daerah lain, tapi di Banjar, warung ketupat ini masih bisa ditemui di tepi jalan. Intinya, kalau bertamu ke rumah orang Banjar, kemungkinan besar disuguhi masakan berkuah yang segar daripada ayam bakar aja, apalagi pas hari raya Idul Fitri.

‎Ironi Beras Kelas Pertama

‎Kabupaten Banjar itu unik secara geologis. Sisi timurnya penuh bukit kaki Meratus yang isinya batu bara, tambang penyebab bikin kas daerah gendut. Tapi sisi baratnya adalah lahan rawa dan gambut yang jadi rahim lahirnya Beras Siam.

‎​Beras Siam ini adalah kasta ningrat di dunia perberasan. Aromanya wangi, teksturnya pulen tapi nggak lengket, dan warnanya putih bersih. Masalahnya satu, harganya selangit.

‎​Di sinilah letak ironinya. Kabupaten Banjar itu lumbung beras premium, tapi banyak warga lokalnya yang cuma bisa “menghirup” aromanya saja tanpa bisa sering-sering memakannya karena lebih sering diekspor atau dijual ke luar daerah dengan harga mahal. Kita yang nanam, kita yang jaga sawahnya, tapi kalau mau makan harus mikir dua kali gara-gara harganya yang bikin dompet meriang.

‎​Itulah tiga sisi lain soal Banjar yang mungkin baru mampir di kalian. Sebuah daerah memang punya banyak wajah. Ada yang cantik buyu saat dipajang, ada yang pahit buat dikenang, tapi semuanya nyata. mau dikenal baik atau buruk, ya itulah Banjar dengan segala sisi lainnya.