LIFESTYLE

Arti Istilah Ghosting dan Sejarahnya di Kalangan Gen Z

MediaKalsel – Kata ‘ghosting’ yang diartikan sebagai kata kerja kini menjadi istilah di kalangan Gen Z dengan arti ‘ditinggalkan begitu saja tanpa kabar’ dalam sebuah hubungan. Hal tersebut bisa terasa mengejutkan, tapi Gen Z perlu terbiasa karena tidak ada cara lain untuk menghadapi dunia kita.

Sebenarnya istilah ghosting punya catatan lama yang berasal dari tahun 1637 dengan arti sangat berbeda. Awalnya ghosting menggambarkan tindakan atau bahkan menjadikan seseorang sebagai hantu secara harfiah, karena artinya menghantui atau pembunuhan.

Maka dari itu, penggunaan serupa dapat ditemukan dalam drama terkenal Shakespeare, Antony and Cleopatra, merujuk kepada Julius Caesar dipangggil ‘yang di Philippi, Brutus yang baik hati menjadi hantu,’ sepanjang abad ke-17.

Bahkan dalam risalah medis berjudul The Art of Curing Diseases by Expectation (1689), terdapat sebuah kalimat melankolis.

“A day or two after… the Lad having been miserably tortured, Ghosted.”

Jauh lebih lanjut, dalam karya novel berjudul The Heroine (1813) karya ES Barrett menunjukan strategi unik untuk menakut-nakuti orang agar terlibat dalam berbagai rencana juga disebut ghosting.

Menuju awal abad ke-20, ‘ghosting’ telah digunakan untuk merujuk praktik menulis buku secara diam-diam atau atas nama penulis lain yang disebutkan namanya (sekarang dikenal sebagai ‘ghost-writer’). Justru ghosting sempat digunakan untuk menunjukan praktik memindahkan narapidana dari satu penjara ke penjara lain tanpa pemberitahuan.

Mulai pergeseran istilah ghosting seperti sekarang ternyata berasal dari salah satu utas @Vonster di Twitter pada 3 April 2007. “Just now realized I ghosted Gedeon on our interview? Doh!” Penggunaan kontemporer pertama dari istilah tersebut digunakan dalam kaitannya dengan dunia kerja (Gedeon mungkin merujuk pada perusahaan media, atau perusahaan farmasi), bukan dunia persahabatan atau percintaan. Sejak saat itu, kita telah mengaitkan kata ini dengan yang terakhir–dengan cinta.

Pada tahun 2012 pun dalam Oxford English Dictionary, istilah ghosting diabadikan sebagai berikut:

“The action of ignoring or pretending not to know a person, esp that of suddenly ceasing to respond to someone on social media, by text message, etc; the action of ending a relationship or association with someone by ceasing all communication.”

Terjemahannya, “tindakan mengabaikan atau berpura-pura tidak mengenal seseorang, terutama dengan tiba-tiba berhenti menanggapi seseorang di media sosial, melalui pesan teks, dll; tindakan mengakhiri hubungan atau pergaulan dengan seseorang dengan menghentikan semua komunikasi.”

Komunikasi melalui teknologi atau media sosial menjadi inti dari definisi istilah ghosting tersebut. Ghosting muncul dari pranata sosial internet. Hal ini membedakan iterasi ghosting terbaru dari era sebelumnya.

Banyaknya mode komunikasi baru telah menghadirkan beragam pilihan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengabaikan pesan dari orang lain. Memasuki konteks cinta atau hubungan, maraknya aplikasi kencan di internet. Misal, melakukan ‘ghosting’ atau pun di-ghosting bukanlah hal yang aneh oleh pasangan apabila tidak merasa cocok.

Di dalam kasus lain, terdapat pasangan yang sebenarnya sudah tidak saling mencintai atau bahkan menuju putus cinta namun tinggal di rumah yang sama. Keduanya, seperti saling menghantui dengan semacam kehadiran-ketidakhadiran yang samar dan tidak nyata.

Apakah ‘ghosting’ lebih buruk? daripada berpegang teguh pada hubungan yang dalam segala hal sudah mati? daripada menjadi mayat hidup saat mantan teman dan kekasih-atau anggota keluarga yang saling mengirim email setahun sekali hanya untuk alasan seremonial?

Akan tetapi, semua orang memang rentan terhadap perilaku ghosting-sama seperti kita semua terkadang terpaksa melakukan ghosting. Karena kehidupan memang melibatkan sejumlah besar koneksi sosial dengan beberapa orang lain untuk memenuhi kebutuhan dasar. Mempertahankan semua itu dengan penuh perhatian atau kepedulian adalah hal yang terasa mustahil di era kehidupan sekarang.

Esai ini diadaptasi dari Ghosting (2025) karya Dominic Pettman, yang diterbitkan oleh Polity.

Haris Pranata

Seorang pria yang memiliki mimpi menjadi penulis.

Recent Posts

Mengapa Restitusi untuk Korban Sering Tidak Terpenuhi Meski Sudah Putusan Pengadilan?

MediaKalsel, Martapura - Mengapa pembayaran restitusi yang menjadi hak korban kerap tidak terpenuhi meski putusan…

13 jam ago

Akademisi Soroti Demokrasi di Ruang Digital dan Akun Anonim: Antara Perlindungan dan Penyalahgunaan

MediaKalsel, Banjarmasin – Maraknya penggunaan akun anonim di media sosial menjadi sorotan para akademisi di…

2 hari ago

Lagi, Polda Kalsel Bongkar Jaringan Fredy Pratama, Sita 128,7 Kg Sabu dari Lima Kurir

MediaKalsel, Banjarbaru – Ditresnarkoba Polda Kalimantan Selatan (Kalsel) Kembali menggagalkan peredaran narkoba skala besar. Lima…

3 hari ago

Aksi Damai Depan DPRD Banjar, Ratusan Warga Minta MBG Jangan Dihentikan

MediaKalsel, Martapura – Ratusan warga Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, menggelar aksi damai di halaman Kantor…

3 hari ago

PT Palmina Utama Bersama PT Solusi indo Borneo Gelar Apel Siaga Karhutla 2026

MediaKalsel, Batola – Guna meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau, PT Palmina Utama (Julong Group) bersama…

4 hari ago

Pemkab Banjar Ajak Kader PATBM Martapura Aktif Cegah Kekerasan Anak

MediaKalsel, Martapura – Tantangan perlindungan anak di Kabupaten Banjar dinilai makin kompleks seiring maraknya ancaman…

4 hari ago