NEWS

Cegah Karhutla, 20 Hektare Lahan di Banjar Kalsel Diolah Tanpa Bakar

Oleh Hendra — 11 Oktober 2026, 17:32

MediaKalsel, Banjar — Pemerintah mendukung pengolahan 20 hektare lahan pertanian tanpa bakar di Desa Melintang, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pengolahan dilakukan dengan membalik jerami menggunakan traktor agar sisa tanaman tidak dibakar saat persiapan musim tanam.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq meninjau kegiatan tersebut pada Minggu (11/10/2026). Ia berdialog dengan penyuluh pertanian dan kelompok tani mengenai pelaksanaan pengolahan lahan serta kendala yang dihadapi petani.

Turut mendampingi, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel Syamsir Rahman, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kalsel Rahmat Prapto Udoyo, serta Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Soewarso.

Pembalikan Jerami untuk Mengurangi Risiko Kebakaran

Mantri Tani Kecamatan Gambut, Enny Risanthi, menjelaskan pengolahan lahan menggunakan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari Brigade Pangan. Kegiatan menyasar lahan yang belum terbakar dengan memanfaatkan traktor roda empat yang dilengkapi alat rotari.

“Dalam beberapa hari ini, lahan yang belum terbakar bisa kita balik jeraminya untuk mencegah meluasnya kebakaran lahan,” kata Enny.

Menurut Enny, metode tersebut disesuaikan dengan kondisi sawah tadah hujan yang mengandalkan curah hujan. Selain mengurangi risiko kebakaran, pengolahan tanpa bakar membantu mempertahankan organisme tanah yang berperan dalam penguraian bahan organik serta musuh alami hama.

Membantu Petani Menyiapkan Musim Tanam

Enny mengatakan bantuan pengolahan lahan juga meringankan biaya persiapan musim tanam. Dukungan ini dibutuhkan setelah produksi padi di wilayahnya menurun akibat kekeringan serta serangan hama dan penyakit. Sejumlah petani bahkan mengalami gagal panen karena kekurangan air.

“Dengan bantuan dari Kemenko Pangan ini, setidaknya pengolahan lahan untuk tanam musim pertama mereka tidak mengeluarkan biaya sendiri lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum APHI Soewarso menilai pengolahan lahan tanpa bakar dapat menjadi model pencegahan karhutla di wilayah lain. Menurutnya, keterlibatan petani perlu diikuti dukungan dan koordinasi antarpemangku kepentingan.

“Ini konsep model pencegahan kebakaran yang saya kira efektif. Masyarakat sudah memahami bahwa pembakaran juga berdampak terhadap organisme dan lingkungan. Tinggal bagaimana mengorganisasi semua pemangku kepentingan untuk membantu model seperti ini,” kata Soewarso.

Ia menjelaskan, pembalikan jerami menggunakan traktor dapat mengurangi bahan yang berpotensi terbakar di permukaan lahan. Soewarso mendorong dukungan berbagai pihak agar praktik tersebut dapat dikembangkan sebagai bagian dari pencegahan karhutla sekaligus mendukung keberlanjutan usaha tani.