Dolar Tembus Rp18 Ribu, Prof Yunani: Eksportir Untung, Beban bagi Rakyat Menengah Bawah
MediaKalsel, Banjarmasin – Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang menembus angka Rp18.040 pada Kamis (4/6/2026) pagi. Bagaimana dampaknya bagi perekonomian Kalimantan Selatan (Kalsel)? Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Prof Ahmad Yunani, mengatakan melemahnya nilai rupiah membawa dampak ganda bagi warga Banua.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM ini menyebut, fenomena ini menjadi angin segar bagi komoditas ekspor. Namun di sisi lain, bayang-bayang inflasi siap mengimpit daya beli masyarakat bawah.
Meski memicu kekhawatiran, Prof Yunani meminta masyarakat tidak panik berlebihan. Ia menegaskan, fundamental ekonomi nasional saat ini jauh lebih kokoh dibandingkan saat krisis moneter 1998.
“Dulu semua sektor runtuh bersamaan—perbankan, utang swasta, hingga politik. Sekarang sistem keuangan diawasi ketat, jadi kecil kemungkinan krisis 1998 terulang,” ujar Prof Andin, sapaan lainnya, Kamis (4/6/2026).
Menurut Prof Yunani, pelemahan rupiah kali ini lebih dipicu oleh faktor eksternal (external shock), seperti tingginya suku bunga di AS dan ketidakpastian geopolitik global yang membuat investor memburu dolar.
Sisi Plus: Keuntungan bagi Sektor Ekspor Kalsel
Sebagai daerah yang kaya akan komoditas, menurut Prof Yunani, Kalsel berada di posisi yang diuntungkan oleh penguatan mata uang asing ini. Sektor-sektor andalan daerah berpotensi meraup finansial yang signifikan.
Komoditas seperti batu bara, kelapa sawit, karet, hasil perikanan, dan pertanian yang diekspor menggunakan dolar akan menghasilkan konversi rupiah yang jauh lebih besar.
Selain itu, pendapatan eksportir yang meningkat dapat mendorong aktivitas ekonomi di daerah berbasis ekspor.
“Tantangannya adalah bagaimana manfaat ini tidak hanya dinikmati oleh perusahaan besar, tetapi juga menetes ke bawah—bisa dirasakan oleh pekerja, UMKM, dan masyarakat luas,” kata Prof Yunani.
Sisi Minus: Impitan Hidup Masyarakat Bawah
Kebalikan dari sektor ekspor, masyarakat menengah ke bawah justru menjadi kelompok yang paling rentan dan cepat merasakan hantaman dari pelemahan rupiah ini. Salah satunya bahan pokok melejit.
Kata Prof Yunani, kenaikan dolar berpotensi mengerek biaya produksi dan harga kebutuhan pokok di pasar. Ujungnya, ancaman meningkatnya angka kemiskinan.
“Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, penurunan daya beli masyarakat dikhawatirkan akan meningkatkan angka kemiskinan serta memperlebar kesenjangan sosial,” papar Prof Yunani.
Rekomendasi: Langkah Taktis untuk Pemerintah
Melihat adanya ketimpangan dampak tersebut, Prof Yunani mendesak pemerintah daerah di Kalsel untuk segera mengambil langkah mitigasi guna menjaga stabilitas ekonomi warga. Pemda diminta fokus pada empat poin krusial:
Operasi Pasar: Menjaga stabilitas harga pangan dan memastikan jalur distribusi logistik bebas hambatan.
Penguatan Sektor Lokal: Memperkuat UMKM dan sektor pertanian domestik untuk mengurangi ketergantungan pada barang impor.
Jaring Pengaman Sosial: Menyiapkan dan memastikan program perlindungan sosial berjalan tepat sasaran bagi kelompok rentan.
“Daerah yang mampu memanfaatkan peluang ekspor sekaligus menekan ketergantungan impor akan lebih tangguh menghadapi gejolak global. Pemda harus hadir agar tekanan ekonomi ini tidak mengorbankan daya beli masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan