MediaKalsel, Banjarmasin – Kinerja penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) hingga 31 Mei 2026 menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Sistem Informasi Kredit Program (SIKP) Kementerian Keuangan, realisasi KUR di Kalsel telah mencapai Rp2,22 triliun atau 43,04 persen dari target Rp5,15 triliun, dengan total 30.845 debitur.

Dari total tersebut, KUR konvensional mendominasi sebesar Rp2,13 triliun (95,99 persen), sedangkan KUR syariah mencatatkan Rp88,87 miliar (4,01 persen).

Kepala Kanwil DJPb Kalsel, Catur Ariyanto Widodo, mengungkapkan bahwa secara nasional Bumi Lambung Mangkurat menempati peringkat ke-17 dalam realisasi KUR, dan berada di posisi kedua untuk regional Pulau Kalimantan.

“Sektor pertanian menjadi penerima KUR terbesar dengan nilai Rp776,12 miliar atau 35,01 persen yang disalurkan kepada 13.497 debitur. Berdasarkan skema, KUR Mikro mendominasi sebesar Rp1,43 triliun kepada 27.794 debitur,” ujar Catur di Banjarmasin, Selasa (30/6/2026).

Daerah dan Bank Penyalur Terbesar

Kepala Kanwil DJPb Kalsel, Catur Ariyanto Widodo, mengatakan secara nasional Kalsel menempati peringkat ke-17 dalam realisasi KUR. Foto: MC Kalsel

Berikut adalah rincian tiga daerah dengan serapan tertinggi serta tiga bank penyalur KUR terbesar di Kalimantan Selatan per Mei 2026:

KategoriPosisi IPosisi IIPosisi III
Wilayah (Kota/Kab)Kota Banjarmasin
Rp385,85 M (4.351 debitur)
Kab. Tanah Bumbu
Rp293,99 M (2.906 debitur)
Kab. Banjar
Rp227,89 M (3.666 debitur)
Lembaga PenyalurBRI
Rp1,48 T (26.652 debitur)
Bank Mandiri
Rp232,75 M (1.876 debitur)
BNI
Rp210,83 M (660 debitur)

Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) Capai Rp23,49 Miliar

Selain KUR, pemerintah juga terus menggenjot pembiayaan Ultra Mikro (UMi) bagi pelaku usaha kecil yang belum bankable. Hingga akhir Mei 2026, realisasi UMi di Kalsel mencapai Rp23,49 miliar untuk 4.364 debitur. Angka ini terdiri dari pembiayaan konvensional Rp3,70 miliar dan syariah Rp19,80 miliar.

“Secara nasional, Kalsel berada di peringkat ke-28 dalam realisasi UMi, sedangkan di tingkat regional menempati posisi ketiga se-Kalimantan,” tambah Catur.

Sama seperti KUR, Kota Banjarmasin kembali menjadi wilayah serapan UMi terbesar dengan Rp4,76 miliar (814 debitur), disusul Kabupaten Banjar Rp2,96 milar (548 debitur), dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan Rp2,53 miliar (447 debitur).

Sektor perdagangan mendominasi penerima UMi dengan porsi mutlak 98,25 persen melalui skema pembiayaan kelompok. Dari sisi penyalur, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjadi yang terbesar dengan realisasi Rp19,80 miar kepada 3.638 debitur.

Dorong Pemerataan Ekonomi Daerah

Catur menegaskan, capaian ini membuktikan semakin luasnya akses pembiayaan pemerintah bagi pelaku UMKM sebagai motor utama penggerak ekonomi daerah. Untuk menjaga akuntabilitas, Kanwil DJPb Kalsel terus memperkuat fungsi pengawasan lewat monitoring dan evaluasi berkala.

“Kolaborasi dengan seluruh mitra penyalur akan terus ditingkatkan agar keberhasilan di daerah yang serapannya tinggi, seperti Banjarmasin, bisa direplikasi ke kabupaten/kota lain. Dengan begitu, distribusi pembiayaan UMKM menjadi lebih merata dan berdampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya.