Sekolah Jurnalisme Warga bertajuk Jurnalisme Akar Rumput di Desa Lok Lahung di Kecamatan Loksado, Kabupaten HSS, Kalsel, Jumat (8/5/2026). Foto: Hendra Lianor
MediaKalsel, Kandangan – Selama tiga hari, 8 hingga 10 Mei 2026, di Lok Lahung sebuah desa di kaki pegunungan Meratus di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan (Kalsel) riuh oleh diskusi tak biasa. Masyarakat adat, mahasiswa, perangkat desa, hingga aktivis berkumpul dalam Sekolah Jurnalisme Warga bertajuk “Jurnalisme Akar Rumput.”
Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan upaya mendokumentasikan cerita, persoalan, dan perubahan lingkungan langsung dari tangan mereka yang merasakannya. Program ini digagas oleh AJI Persiapan Banjarmasin berkolaborasi dengan Pusham ULM, BASIS, Sepaham Indonesia, Yappika, dan Forum Multi Pihak Banjarmasin.
Suara dari Akar Rumput
Sejak sesi diskusi dibuka pada Jumat (8/5/2026) malam, warga langsung mengeluarkan uneg-uneg. Mereka bicara blak-blakan soal jalan rusak, minimnya penerangan jalan, sulitnya sinyal internet, hingga terbatasnya akses kesehatan dan pendidikan.
Isu sensitif pun mencuat, seperti persoalan sampah dan larangan manyalukut—tradisi membakar lahan untuk manugal (bercocok tanam padi gunung) yang kini terbentur regulasi.
Kepala Desa Lok Lahung, Ibas, berharap pelatihan ini menjadi bekal konkret bagi anak muda desa. “Harapannya, pemuda di sini bisa belajar menulis dengan baik dan aman untuk menyampaikan apa yang mereka alami sendiri,” ujarnya.
Mengisi Kekosongan
Rendy Tisna selaku Koordinator AJI Persiapan Banjarmasin menilai jurnalisme warga merupakan jawaban atas keterbatasan akses media nasional ke wilayah pelosok. Ia menegaskan bahwa warga lokal adalah informan terbaik untuk menyuarakan realitas yang terjadi di sekitar mereka.
“Warga desa adalah sumber informasi terdekat dengan persoalan nyata di wilayah mereka, namun selama ini suara itu jarang terdengar sampai ke luar,” ungkap Rendy.
Ia pun mengapresiasi seluruh pihak yang menyukseskan kegiatan ini dan berharap program serupa dapat terus berlanjut di berbagai desa lainnya.
Netty Herawati, Program Officer BaSiS (Building Enabling Environment and Strong Civil Society), menyebut Sekolah Jurnalisme Warga sebagai peluang bagi masyarakat Desa Lok Lahung untuk memperkenalkan khazanah pengetahuan lokal mereka. Menurutnya, selama ini pemahaman publik luar terhadap masyarakat adat Meratus masih sangat terbatas.
“Masyarakat adat adalah pihak yang paling memahami lingkungan, hukum, dan tradisi mereka sendiri. Karena itu, pengetahuan ini perlu disebarluaskan secara mandiri melalui teknologi yang ada,” ujar dosen FISIP ULM Banjarmasin tersebut.
Bagi Netty, kemampuan warga dalam membangun narasi sendiri sangat krusial. Hal ini bertujuan agar kondisi masyarakat dan lingkungan di kawasan Meratus tidak lagi dipandang sebelah mata atau disalahartikan oleh pihak luar.
Teknis dan Etika: Menulis dengan Kritis dan Aman
Pelatihan ini menghadirkan tiga narasumber yang membedah jurnalisme dari berbagai sisi.
Budi Dayak Kurniawan misalnya, ia menekankan pentingnya berpikir kritis dan keamanan hukum. Ia mewanti-wanti peserta agar tidak terjebak pasal karet UU ITE.
“Kritis itu harus berargumen kuat. Hindari menyebut nama secara langsung, merekam anak kecil, atau menyinggung SARA,” pesannya.
Adaoun Ari Arung Purnama mengupas teknik dokumentasi video dan pembuatan konten sederhana yang visualnya selaras dengan data.
Jumarto seorang jurnalis, membekali peserta dengan Teknik menulis hingga wawancara hingga bagaimana bersikap skeptis. “Seorang jurnalis jangan langsung menelan mentah informasi. Cari fakta sebenarnya di lapangan,” tegasnya.
Hak Berwarga Negara dan Kekuatan Digital
Muktiono, Ketua SEPAHAM Indonesia, menekankan pentingnya warga desa beradaptasi dengan teknologi. Ia menyoroti bagaimana media sosial kini memungkinkan siapa pun berkomunikasi kapan saja, hingga memunculkan tren no viral, no justice.
Dosen FH Universitas Brawijaya ini menjelaskan bahwa Sekolah Jurnalisme Warga adalah wadah untuk mengasah kemampuan tersebut. “Kita belajar bagaimana menyuarakan apa yang ada di sekitar kita, mulai dari potensi wisata hingga kritik sosial, dengan cara yang efektif dan tetap aman,” ungkapnya.
Perwakilan Pusham ULM Banjarmasin, Arisandy Mursalin, mengingatkan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat adalah amanat konstitusi.
Dengan bekal pengetahuan dari kegiatan ini, warga diharapkan memiliki keberanian untuk menyoroti realitas di sekitar mereka—khususnya mengenai hak-hak warga negara yang sering terabaikan, seperti akses kesehatan dan pendidikan.
Cara Pandang Baru
Bagi Anita, salah satu peserta dari warga setempat, pelatihan ini adalah pembuka mata. Ia baru menyadari bahwa keseharian di desanya memiliki nilai berita yang penting bagi dunia luar.
“Kami sadar bahwa keadaan di sini penting diketahui orang luar. Harapannya, isu yang kami sampaikan bisa didengar oleh pemerintah,” ungkap Anita.
Setelah menerima teori, para peserta langsung turun ke lapangan untuk melakukan peliputan praktis. Selama tiga hari di kaki Pegunungan Meratus, Sekolah Jurnalisme Warga telah berubah menjadi ruang bagi masyarakat Lok Lahung untuk mulai menuliskan sejarah mereka sendiri.
MediaKalsel, Jakarta - Kapolda Kalimantan Selatan, Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan, menorehkan prestasi di tingkat…
MediaKalsel, Martapura – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Banjar menggelar pembekalan konten kreatif bagi…
MediaKalsel, Banjarbaru – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) terus memacu persiapan pembangunan Bendungan Riam Kiwa.…
MediaKalsel, Palangka Raya – PT PLN Icon Plus melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan…
MediaKalsel, Martapura - 120 Sapi kurban di Kecamatan Cindai Alus, Kabupaten Banjar, jalani pemeriksaan kesehatan…
MediaKalsel, Banjarbaru – Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Martapura terus mematangkan langkah untuk bertransformasi dari…