Melihat Hasil Program Pertanian Kabupaten Banjar: Tiga Tahun Panen Padi Meroket
MediaKalsel, Martapura – Ketahanan pangan menjadi salah satu fondasi utama pembangunan daerah. Di Kabupaten Banjar, komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program strategis yang tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi pertanian, tetapi juga memastikan ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas pangan bagi masyarakat.
Melalui semangat “Kindai Limpuar, Pangan Kuat Rakyat Terjaga”, Pemerintah Kabupaten Banjar bersama Dinas Pertanian setempat terus memperkuat sektor pertanian sebagai penopang utama ketahanan pangan daerah. Dari hamparan sawah para petani Banjar, pangan tersedia untuk memenuhi kebutuhan hari ini hingga masa depan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Selatan Tahun 2025 menunjukkan produksi padi Kabupaten Banjar mencapai 166.001 ton. Angka tersebut meningkat sekitar 12.463,13 ton dibandingkan tahun 2024 sebesar 153.537,87 ton. Mundur ke belakang, tahun 2023 menghasilkan padi sebanyak 114.278,22 ton, peningkatannya bahkan lebih dari 51 ribu ton dalam dua tahun terakhir.
Capaian tersebut menempatkan Kabupaten Banjar sebagai daerah penghasil padi terbesar kedua di Kalimantan Selatan setelah Kabupaten Barito Kuala yang mencatat produksi sebesar 323.183 ton.
Namun jika dilihat dari aspek produktivitas lahan, Kabupaten Banjar menunjukkan kinerja yang lebih tinggi.
Luas panen padi di Kabupaten Banjar tercatat 43.460,65 hektare, sedangkan Barito Kuala mencapai 91.057,03 hektare. Dengan luas panen yang hanya sekitar 47,73 persen dari Barito Kuala, Kabupaten Banjar mampu menghasilkan produktivitas rata-rata 3,82 ton per hektare, lebih tinggi dibandingkan Barito Kuala yang berada pada angka 3,55 ton per hektare.
Artinya, produktivitas padi Kabupaten Banjar sekitar 0,27 ton/ha atau 7,5 persen lebih tinggi dibandingkan daerah penghasil padi terbesar di Kalsel tersebut.
Tidak berlebihan jika disebut meroketnya panen padi ini menjadi indikator keberhasilan nyata dari berbagai program pertanian Pemerintah Kabupaten Banjar.
Regenerasi Petani dan Modernisasi Jadi Kunci Peningkatan Produksi

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Warsita, mengungkapkan rasa syukur atas tren peningkatan produksi padi yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Meski positif, bukan berarti tanpa hambatan dan tantangan, terutama yang berkaitan dengan perubahan iklim dan kondisi cuaca.
“Untuk tahun ini saja, dari total luas lahan ada sekitar sembilan hektare yang mengalami puso akibat kekeringan. Mayoritas yang terkena puso adalah padi lokal yang memiliki masa tanam lebih panjang dibandingkan padi unggul,” ujar Warsita, Kamis (13/8/2026).
Menurut Warsita, salah satu tantangan utama sektor pertanian saat ini adalah sumber daya alam dan sumber daya manusia itu sendiri. Oleh karena itu, regenerasi petani menjadi fokus utama melalui berbagai program pembinaan dan pemberdayaan.
Salah satunya melalui Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) dan program Batumbang Tani Manis (Banjar Tumbuh Kembangkan Petani yang Maju, Mandiri dan Agamis). Program tersebut dirancang untuk mencetak generasi petani baru yang mampu mengelola pertanian secara modern dan berkelanjutan.
“Intinya untuk regenerasi petani,” kata Warsita.
Untuk SDA-nya, Pemkab Banjar juga terus menjalankan program Optimasi Lahan (Oplah) untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Hingga saat ini, program tersebut telah mencakup sekitar 10 ribu hektare lahan pertanian dan didukung program cetak sawah seluas 2 ribu hektare.
Hasilnya mulai terlihat di sejumlah wilayah. Bahkan beberapa kawasan pertanian telah mampu menerapkan pola tiga kali tanam dan tiga kali panen dalam setahun.
“Sudah ada yang tiga kali tanam tiga kali panen, termasuk di Beruntung Baru kemarin,” ungkapnya.
Langkah berikutnya adalah mengubah pola pikir kelompok tani agar lebih adaptif terhadap penggunaan varietas unggul yang memungkinkan peningkatan indeks pertanaman menjadi dua kali atau lebih dalam setahun.
Pemerintah Kabupaten Banjar juga memperkuat kolaborasi dengan pemerintah pusat melalui pembentukan Brigade Pangan, sebuah program Kementerian Pertanian RI yang melibatkan petani milenial dalam pengelolaan pertanian modern berbasis mekanisasi dan teknologi.
Program tersebut bertujuan mendukung percepatan swasembada pangan nasional melalui pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern secara terstruktur dan efisien.
“Kita konsisten mempertahankan ketahanan pangan untuk swasembada pangan yang berkelanjutan. Yang pertama regenerasi petani, yang kedua mekanisasi, dan yang ketiga intensifikasi. Program terbaru kita adalah PM-AAS atau Pertanian Modern–Advanced Agricultural System,” jelas Warsita.
Ketersediaan Pangan Terjaga, Surplus hingga 10 Bulan

Tidak hanya dari sisi produksi, ketahanan pangan Kabupaten Banjar juga didukung kondisi ketersediaan pangan yang relatif aman. Berdasarkan data Dinas Pertanian Banjar, rasio ketersediaan pangan mencapai 1 : 1,9.
“Surplus pangan daerah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga sekitar 10 bulan ke depan,” ungkap Warsita.
Untuk memperkuat cadangan pangan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Banjar juga mengembangkan 21 unit Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) yang tersebar di berbagai desa. Pada tahun 2026, Pemkab Banjar berencana menambah satu unit LPM baru yang dilengkapi bantuan modal pengisian.
Sementara itu, untuk menjaga keterjangkauan harga pangan, program Gerakan Pangan Murah (GPM) akan terus digelar. Sepanjang tahun 2026, program tersebut ditargetkan terlaksana sebanyak 35 kali dengan subsidi hingga Rp5.000 per kilogram untuk sejumlah komoditas tertentu.
Transformasi digital juga menjadi bagian penting dalam penguatan ketahanan pangan daerah. Melalui aplikasi I-Padaringan, masyarakat dapat mengakses informasi harga dan ketersediaan pangan secara cepat dan akurat. Platform tersebut menyediakan pembaruan harian terhadap 23 komoditas pangan, sehingga menjadi referensi bagi petani, pelaku usaha, maupun pengambil kebijakan.
Keberhasilan program ketahanan pangan juga tercermin dari menurunnya jumlah desa rawan pangan di Kabupaten Banjar.
“Jika pada tahun 2024 terdapat 19 desa rawan pangan, maka pada tahun 2025 jumlahnya turun menjadi 16 desa,” kata Warsita.
Dalam menghadapi situasi darurat dan bencana, pemerintah daerah juga memperkuat cadangan pangan daerah. Saat ini tersedia 120 ton cadangan pangan pemerintah, dengan 57 ton di antaranya telah disalurkan kepada masyarakat terdampak banjir pada awal tahun 2026.
Mewujudkan Swasembada Pangan yang Berkelanjutan

Bagi Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, keberhasilan ketahanan pangan tidak hanya diukur dari tingginya produksi, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan antara kepentingan petani, distribusi pangan, dan kebutuhan konsumen.
Karena itu, berbagai langkah terus dilakukan, mulai dari memperkuat penyerapan hasil panen melalui Lumbung Pangan Masyarakat, meningkatkan pengawasan distribusi pangan, hingga memanfaatkan teknologi digital sebagai dasar pengambilan kebijakan yang cepat dan tepat sasaran.
Semangat tersebut dirangkum dalam satu tujuan besar, yakni mewujudkan petani yang sejahtera dan masyarakat yang memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan berkualitas.
“Petani kuat, pangan tersedia, harga terjaga, rakyat sejahtera,” ucap Warsita.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, petani, pelaku usaha, dan masyarakat, Kabupaten Banjar terus bergerak menuju kemandirian pangan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu lumbung pangan utama di Kalimantan Selatan.
Dengan hasil nyata dari program pertanian ini, selaras dengan semangat tema Hari Jadi ke-76 Kabupaten Banjar: Banjar Dijaga, Banjar Ditata.
“Menjaga yang sudah berjalan baik, dan menata yang belum sempurna. Dengan semangat gotong royong mewujudkan Kabupaten Banjar yang Maju, Mandiri, dan Agamis (Manis),” harap Warsita.

Tinggalkan Balasan