HUMANIORA

Pria itu juga Punya Masa Lalu

Oleh: Haris Pranata

AKU sedang membersihkan kamar ketika menemukan foto album usang berdebu. Di halaman pertama, sebuah pasfoto kecil hitam-putih hampir terkelupas.

Di dalam foto tersebut, ada pria yang memiliki mata tegas, rambut gondrong, berpakaian sekolah, dan senyum pasti ke arah kamera.

Perlu waktu beberapa detik bagi ku untuk menyadari pria asing yang penuh mimpi itu adalah Ayah. Pria yang selalu terlihat lelah seusai pergi memancing dan menikmati malam di depan tv dengan teh kesukaannya.

Ternyata aku sering kali egois sebagai anak.

Diri ku lahir ke dunia dan mendapati pria itu sudah berada di sana, siap dengan peran kaku bernama “Ayah”. Ku lihat ia sebagai sosok kuat, penyedia nafkah, pelindung yang tidak boleh mengeluh.

Aku baru sadar, pria itu juga punya masa lalu.

Sebelum rambutnya mulai memutih, pria itu pernah punya masa muda yang riuh seperti aku sekarang. Ia pernah punya sore-sore panjang saat dia asik bermain bola, malam nongkrong bersama teman-temannya, lalu menertawakan hal bodoh.

Dia juga pasti pernah jatuh cinta, patah hati, terutama mimpi besar yang mungkin… terpaksa dilipat rapi ke dalam album foto agar menghidupi kedua anaknya.

Katanya, sebuah kedewasaan mulai merayap sunyi ketika anak sadar tentang orang tuanya. Sadar bila Ayah bukan pahlawan terkuat.

Pria itu hanyalah pria biasa yang pertama kali menjadi orang tua, ketika dulu tidak pernah memiliki buku petunjuk apapun.

Saat pria itu salah, atau canggung kaku, mungkin itu adalah sisa trauma masa lalu yang tidak pernah dia ceritakan apalagi dengan anaknya.

Ayah berkorban besar bukan dengan uang yang dia berikan, tapi identitias masa mudanya yang rela dikubur agar anaknya memiliki identitas sendiri.

Malam tiba, aku bersama pria itu sedang makan. Kali ini ku lihat dia berbeda. Aku melihat pria yang telah menempuh perjalanan panjang, melewati badai ceritanya sendiri, hingga membangun rumah kami sekarang. Ia menjadi jangkar hidup bagi ku.

Pria itu juga punya masa lalu. Ia memilih melepaskan sebagian masa lalunya demi masa depan ku. Mungkin, itulah bentuk kasih paling sunyi yang pernah ku rasakan.

Ku tanya pria itu, “Ayah, dulu punya cita-cita ga?”

Ia hanya tersenyum. Kami lanjut makan.

Haris Pranata

Seorang pria yang memiliki mimpi menjadi penulis.

Recent Posts

Gerakan Anti Sampah, Ratusan Pendaki Gunung Kahung Siap Bersih-bersih Saat HUT RI

MediaKalsel, Martapura – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Gunung Kahung, Kabupaten…

14 jam ago

Ketua Peradi Martapura-Banjarbaru Usulkan Advokat Dampingi Desa dan Kelurahan

MediaKalsel, Banjarbaru – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Martapura-Banjarbaru berencana menjalin kerja…

3 hari ago

Peradi Gelar Ujian Profesi Advokat di Banjarbaru, Diikuti 26 Peserta

MediaKalsel, Banjarbaru – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Martapura-Banjarbaru menggelar Ujian Profesi…

3 hari ago

Pengundian Nomor Urut Rampung, Pilkades Serentak Banjar 2026 Masuk Tahap Kampanye

MediaKalsel, Martapura – Tahapan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026 di Kabupaten Banjar terus berjalan.…

4 hari ago

118 Ribu Warga yang Sudah Menikah di Kabupaten Banjar Belum Miliki Akta Kawin

MediaKalsel, Banjar – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Banjar mencatat sebanyak 118.528 warga…

4 hari ago

Jelang Pilkades Serentak, 62 Calon Pambakal di Banjar Deklarasi Damai

MediaKalsel, Martapura – Pemerintah Kabupaten Banjar menggelar Deklarasi Damai Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026…

5 hari ago